Akikah untuk Janin Keguguran

Terima kasih kepada Bapak/Ibu yang telah mengunjungi website Faris Aqiqah, penyedia Jasa Aqiqah terbaik dengan Harga Kambing Aqiqah yang murah dan berkualitas. Sebelum Bapak/Ibu hendak meng-aqiqahkan putra/putrinya hendaknya terlebih dahulu mengetahui dan memiliki pemahaman seputar Ibadah Aqiqah ini, karena itu kami Faris Aqiqah menyajikan kepada Bapak/ibu kumpulan beberapa artikel yang terkait dengan Hukum Aqiqah. Artikel ini kami nukil dari situs resmi: www.KonsultasiSyariah.com

Bagi bapak/ibu yang ingin mendapatkan informasi lebih lanjut seputar Paket Aqiqah, atau ingin segera melakukan pemesanan Kambing Aqiqah dapat menghubungi kontak Faris Aqiqah: WA. 0812-9455-0043 / Hp. 0812-9455-0043.

Silahkan bapak/ibu untuk menyimak lebih lanjut Tanya jawab seputar Hukum Aqiqah dibawah ini:

Akikah untuk Janin Keguguran
Hal-hal apa saja yang dilakukan terhadap janin yang meninggal usia 5 bulan? Apa perlu diakikahi dan dinamai?
Arizal (ary01**@yahoo.com)

Akikah untuk Janin Keguguran
Bismillah.
Ulama berselisih pendapat tentang hukum akikah untuk bayi keguguran, apakah disyariatkan ataukah tidak. Pendapat yang lebih mendekati kebenaran adalah disyariatkannya memberikan akikah untuk janin keguguran, jika usia janin telah mencapai empat bulan karena ruh ditiupkan ketika janin telah genap berusia empat bulan.
Faqihuz Zaman, Syekh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Janin yang (meninggal dengan sebab) keguguran sebelum berusia empat bulan tidak perlu diakikahi, tidak diberi nama, … sedangkan janin yang (meninggal dengan sebab) keguguran setelah empat bulan –berarti telah ditiupkan ruh– maka dia dimandikan, diberi nama, … dan diberi akikah, menurut pendapat yang kami anggap lebih kuat. Hanya saja, sebagian ulama mengatakan, ‘Tidak ada akikah untuk bayi, kecuali jika dia hidup sampai hari ketujuh setelah dilahirkan.’ Namun, yang benar, janin ini diberi akikah karena dia akan dibangkitkan pada hari kiamat, sehingga bisa menjadi penolong bagi orang tuanya.” (Liqa’at Bab Maftuh, no. 653)
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah).
Artikel www.KonsultasiSyariah.com